
The 7 Spiritual Laws of Success
Deepak Chopra
Mindfulness & WellbeingSpiritualitySuccessAbundance
Tujuh prinsip spiritual, dari hukum potensi murni hingga hukum dharma, ditawarkan sebagai kerangka untuk meraih kesuksesan yang selaras dengan hukum alam semesta, bukan sekadar kerja keras semata.
- 01Buku kecil tentang kesuksesan dan spiritualitas
The Seven Spiritual Laws of Success adalah buku Deepak Chopra terbitan 1994. Bentuknya pendek, seukuran saku, dan cocok dibaca berulang. Ia menyajikan tujuh hukum yang menurutnya juga dipakai alam untuk menciptakan segala sesuatu, dan bisa kita pakai untuk menciptakan apa yang kita inginkan.
Ulasan Butler-Bowdon menyebutnya penulisan swabantu kontemporer yang berkekuatan lugas, sekaligus risalah devosional dan manual kemakmuran. Ia membandingkannya dengan Think and Grow Rich untuk tahun sembilan puluhan, dengan akar dalam filsafat Weda. Konsep medan potensialitas murni mirip dengan kecerdasan tak terbatas dalam karya Napoleon Hill.
Kesuksesan di sini dimaknai sebagai membentangnya sifat ilahi dalam diri, bukan hanya kekayaan. Definisi itu bersifat spiritual dan perlu dibaca dengan kesadaran bahwa itu keyakinan penulis. - 02Hukum potensialitas murni dan memberi menerima
Hukum pertama, potensialitas murni, menyatakan bahwa diri sejati adalah kesadaran murni, sumber segala penciptaan. Praktiknya: menyisihkan waktu untuk hening, bermeditasi, dan berlatih tidak menghakimi. Meditasi dua kali sehari selama tiga puluh menit disarankan.
Hukum kedua, memberi dan menerima, menyatakan bahwa keduanya dua sisi dari aliran yang sama. Kita menjaga kekayaan tetap mengalir dengan memberi dan menerima perhatian, kasih sayang, dan penghargaan. Saran praktisnya: membawa hadiah kecil, seperti pujian, bagi orang yang kita temui. Kemurahan hati menjaga aliran.
Sisi praktis dari dua hukum ini mudah diterima banyak orang: meditasi bisa menenangkan, dan kebaikan memperkuat hubungan. Latihan sederhana ini bermanfaat terlepas dari kerangka metafisiknya. - 03Hukum karma dan upaya paling sedikit
Hukum ketiga, karma, menyatakan setiap tindakan menghasilkan energi yang kembali kepada kita dalam bentuk yang sama. Memilih tindakan yang membawa kebahagiaan bagi orang lain, katanya, menjamin aliran kebahagiaan kepada kita. Ini ajakan untuk memilih dengan sadar.
Hukum keempat, upaya paling sedikit, menyarankan menerima orang, situasi, dan peristiwa apa adanya, mengambil tanggung jawab atas keadaan, dan melepaskan kebutuhan mempertahankan pendapat. Idenya bekerja lebih cerdas tanpa perlawanan. Sikap ini bisa mengurangi ketegangan. Penerimaan membuka ruang.
Perlu diingat bahwa gagasan karma bisa terdengar menyalahkan korban bila diterapkan pada penderitaan orang lain. Baca sebagai refleksi diri, bukan penilaian. Kehati-hatian perlu. - 04Hukum niat, kelepasan, dan dharma
Hukum kelima, niat dan keinginan, menyatakan bahwa dalam setiap niat dan keinginan tersimpan mekanisme pemenuhannya. Praktiknya: membuat daftar keinginan, melepaskannya dalam keheningan, dan mempercayai bahwa hasilnya akan diurus.
Hukum keenam, kelepasan, mengajak melepaskan keterikatan pada hasil sambil tetap bertindak. Hukum ketujuh, dharma, mengajak menemukan tujuan hidup dan bakat unik, lalu memakainya untuk melayani orang lain. Ini sejalan dengan gagasan bahwa makna lahir dari kontribusi. Kontribusi memberi arah.
Sebagai latihan, tuliskan tiga keinginanmu dan satu tindakan nyata untuk masing-masing. Niat tanpa tindakan berhenti sebagai harapan. - 05Ketujuh hukum bekerja bersama
Ketujuh hukum saling berkaitan dan dimaksudkan dipraktikkan bersama untuk hidup seimbang. Beberapa ringkasan menyusunnya menjadi praktik mingguan: setiap hari satu hukum, misalnya diam pada satu hari, memberi pada hari lain, dan menerima pada hari berikutnya.
Susunan ini membuat buku kecil ini mudah dijadikan kebiasaan. Kamu bisa memilih satu hukum tiap minggu dan mencoba satu praktik sederhana. Yang penting bukan menghafal semuanya, tetapi mencoba dan mengamati. Pengamatan pribadi lebih meyakinkan.
Bagi pembaca yang tidak mengikuti kerangka Weda, ambil bagian universal: waktu tenang, kemurahan hati, penerimaan, dan tujuan. Nilai ini bisa dipakai tanpa keyakinan tertentu. - 06Membaca buku ini dengan hati-hati
Buku ini memadukan filsafat Timur, istilah fisika kuantum, dan psikologi, tetapi klaimnya bersifat spiritual. Gagasan bahwa niat menciptakan kenyataan atau memanfaatkan medan kuantum tidak didukung bukti ilmiah, dan penggunaan istilah fisika untuk hal itu banyak dikritik. Bacalah sebagai renungan spiritual.
Buku ini juga dekat dengan hukum tarik-menarik, sehingga berisiko menyiratkan bahwa kegagalan atau penyakit adalah akibat energi seseorang. Padahal banyak hal di luar kendali kita. Untuk masalah kesehatan atau jiwa, cari bantuan profesional.
Ringkasan ini bukan nasihat keuangan atau kesehatan. Sebagai bahan refleksi, ambil praktik yang menenangkan, seperti meditasi singkat dan kebaikan harian. Mulailah dari satu hukum minggu ini dan tindakan kecil yang selaras.
Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.
Link pembelian belum tersedia