← Back

Decisive

Chip Heath, Dan Heath

Mindset & PsychologyDecision MakingCognitive BiasBusiness

Empat jebakan umum dalam pengambilan keputusan, mulai dari sudut pandang sempit hingga bias konfirmasi, diuraikan bersama proses empat langkah untuk membuat keputusan yang lebih jernih.

  • 01Mengapa keputusan kita sering meleset

    Membuat keputusan saja sudah sulit, apalagi menilai apakah keputusan itu benar. Chip dan Dan Heath, penulis Switch dan Made to Stick, menggunakan riset psikologi selama puluhan tahun untuk menjelaskan mengapa otak yang kita anggap rasional sering dijegal bias dan angan-angan.

    Mereka menyoroti tiga jebakan. Pertama, terjebak dalam bingkai keputusan yang sempit. Kedua, bias yang membuat kita menyukai bukti yang mendukung pandangan kita. Ketiga, kepercayaan diri berlebihan tentang bagaimana pilihan kita akan berjalan. Bahkan para ahli, kata mereka, sering keliru karena hal yang sama.

    Kabar baiknya, menghindari jebakan itu relatif mudah bila kita punya prosedur. Karena itu buku ini menawarkan empat prinsip sederhana yang dapat dipelajari siapa saja. Fokusnya bukan kepintaran, tetapi proses yang mencegah kesalahan berulang.
  • 02Kerangka WRAP: empat langkah

    Keempat prinsip itu dirangkum dalam singkatan WRAP: memperluas pilihan (Widen your options), menguji asumsi pada kenyataan (Reality-test your assumptions), menjaga jarak sebelum memutuskan (Attain distance before deciding), dan bersiap salah (Prepare to be wrong).

    Setiap prinsip diberi beberapa bab dengan contoh cara menerapkannya. Urutannya mengikuti alur keputusan: mulai dari mengumpulkan pilihan, memeriksa kenyataan, menenangkan emosi, lalu menyiapkan cadangan. Masing-masing menjawab satu jenis kelemahan dalam berpikir.

    Keunggulan kerangka ini adalah mudah diingat. Ketika menghadapi keputusan penting, kita bisa bertanya empat hal: apakah pilihanku cukup luas, apakah asumsiku sudah diuji, apakah aku terlalu terbawa emosi, dan apa rencanaku bila salah?
  • 03Perluas pilihan: keluar dari pilihan ya atau tidak

    Langkah pertama melawan bingkai sempit. Kita sering memandang keputusan sebagai pilihan antara dua hal saja: ambil atau tolak. Padahal ada banyak kemungkinan lain yang tidak terlihat karena kita berhenti mencari terlalu cepat.

    Para penulis menyebut beberapa cara memperluas bingkai. Salah satunya mempertimbangkan biaya peluang, yaitu apa yang kita korbankan dengan memilih ini. Cara lain adalah uji pilihan yang lenyap: bayangkan bahwa pilihan-pilihan saat ini tidak tersedia, lalu tanyakan apa yang akan kita lakukan. Pertanyaan itu memaksa munculnya alternatif baru.

    Dengan pilihan yang lebih banyak, kita membandingkan dengan lebih adil. Bila kita hanya punya satu opsi, kita cenderung membelanya. Memiliki beberapa opsi membuat penilaian lebih objektif.
  • 04Uji kenyataan: mencari bukti yang menantang

    Langkah kedua mengingatkan bahwa keyakinan kita mudah bias. Kita mencari informasi yang mendukung pandangan kita dan mengabaikan yang bertentangan. Untuk melawannya, kita perlu sengaja mencari bukti yang membantah dan bertanya kepada orang yang punya pengalaman berbeda.

    Praktik yang dianjurkan mencakup menguji ide dalam skala kecil sebelum berkomitmen besar. Percobaan kecil memberi data nyata dengan risiko rendah. Selain itu, kita bisa bertanya secara langsung: apa yang akan membuatku mengubah pendapat? Jika jawabannya tidak ada, kita perlu waspada.

    Ini mirip semangat ilmuwan: keyakinan hanyalah hipotesis sampai diuji. Memperlakukan pilihan sebagai hipotesis membuat kita lebih mudah berubah ketika bukti berkata lain.
  • 05Jaga jarak: tenangkan emosi jangka pendek

    Langkah ketiga menghadapi emosi. Dorongan dan ketakutan saat itu bisa mengaburkan penilaian. Karena itu kita perlu jarak sebelum memutuskan, baik jarak waktu maupun jarak sudut pandang.

    Salah satu alat yang sering dikaitkan dengan buku ini adalah aturan sepuluh, sepuluh, sepuluh: bagaimana perasaanmu tentang keputusan ini sepuluh menit lagi, sepuluh bulan lagi, dan sepuluh tahun lagi? Alat lain adalah membayangkan apa yang akan kamu sarankan kepada teman dalam situasi yang sama.

    Pertanyaan-pertanyaan itu memperpanjang cakrawala waktu. Keputusan yang terasa mendesak hari ini sering tampak kecil dalam sepuluh tahun. Dengan begitu kita memilih berdasarkan hal yang sungguh penting, bukan kegelisahan sesaat.
  • 06Bersiaplah untuk salah

    Langkah keempat menerima bahwa kita tidak bisa memprediksi masa depan dengan pasti. Kita cenderung terlalu percaya diri tentang bagaimana pilihan kita akan berjalan. Karena itu ada baiknya menyiapkan rencana untuk kemungkinan buruk sebelum bertindak.

    Alat yang umum dipakai adalah membayangkan bahwa proyek sudah gagal, lalu menelusuri sebabnya. Latihan ini membuat kita melihat risiko yang tidak tampak pada saat semangat. Kita juga bisa menetapkan tanda peringatan yang memicu tinjauan ulang bila keadaan berubah. Antisipasi ini mengurangi kejutan.

    Sikap ini bukan pesimisme. Ia membuat kita lebih berani bertindak karena tahu apa yang akan dilakukan bila perlu mundur. Keputusan menjadi lebih ringan karena tidak lagi bergantung pada harapan semata.
  • 07Cara memakai buku ini

    Buku ini paling berguna untuk keputusan yang berdampak besar dan tidak bisa dibatalkan: pekerjaan, hubungan, investasi, atau proyek besar. Untuk keputusan kecil, menjalankan empat langkah lengkap mungkin berlebihan, dan kecepatan justru berguna.

    Mulai dari satu langkah saja. Misalnya, sebelum memutuskan, tuliskan minimal tiga alternatif, atau tanyakan pada orang yang berbeda pandangan. Kebiasaan kecil ini sudah menaikkan mutu keputusan tanpa memakan banyak waktu.

    Perlu diingat bahwa kerangka ini membantu proses, bukan menjamin hasil. Keputusan yang baik tetap bisa berujung buruk karena faktor di luar kendali. Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi kesalahan yang bisa dihindari.

Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.

Link pembelian belum tersedia