← Back

Onward

Howard Schultz, Joanne Gordon

Professional & EntrepreneurshipMemoirStarbucksCrisis Management

Krisis finansial global memaksa sebuah perusahaan besar untuk kembali pada nilai-nilai dasarnya, dan perjalanan pemulihan itu diceritakan sebagai pelajaran tentang kepemimpinan di masa sulit.

  • 01Kembali di tengah krisis

    Pada 2008, delapan tahun setelah mundur dari jabatan CEO, Howard Schultz kembali memimpin Starbucks di tengah masa yang tidak menyisakan satu pun perusahaan tanpa luka. Ia khawatir Starbucks kehilangan arah, dan bertekad memulihkan bukan hanya kesehatan finansial, tetapi juga jiwa perusahaan.

    Menurut Publishers Weekly, buku ini adalah catatan pribadi, penuh ketegangan, dan mengejutkan terbuka. Schultz menelusuri perjalanannya sendiri untuk membantu Starbucks merebut kembali nilai yang berpusat pada pelanggan, sambil berinovasi agresif dan merangkul perubahan lanskap teknologi.

    Kisahnya diselingi cerita masa kecilnya di lingkungan keras Canarsie, New York. Nada bukunya lebih berat dan dramatis daripada buku pertamanya, Pour Your Heart Into It. Kejujuran tentang kegagalan menjadi ciri khasnya.
  • 02Memo bocor dan pengakuan jujur

    Salah satu titik balik yang dibahas adalah memo internal Schultz yang bocor ke publik, isinya kritik tajam terhadap arah Starbucks saat itu. Momen itu memalukan sekaligus membebaskan, karena memaksa persoalan yang selama ini dipendam naik ke permukaan.

    Dari situ, ia berbagi langkah menyakitkan sekaligus menggairahkan yang harus diambil untuk memutar balik perusahaan, mulai dari strategi produk baru hingga peluncurannya. Kejujuran tentang kesalahan menjadi bagian penting dari narasinya, bukan sekadar kisah sukses yang dipoles. Transparansi membangun kepercayaan pembaca.

    Pelajaran bagi pembaca: mengakui masalah secara terbuka, walau tidak nyaman, sering menjadi langkah pertama menuju perbaikan nyata. Pengakuan jujur adalah awal perubahan.
  • 03Bukan sekadar menang, tapi menang dengan cara yang benar

    Filosofi kepemimpinan utama Schultz dirangkum dalam satu kalimat: bukan hanya soal menang, tetapi cara yang benar untuk menang. Ia menolak anggapan bahwa pemulihan finansial harus mengorbankan kemanusiaan dan nilai perusahaan.

    Selama masa paling bergejolak dalam sejarah ekonomi modern, Starbucks kembali meraih profitabilitas dan keberlanjutan tanpa mengorbankan sisi manusiawinya, menurut deskripsi penerbit. Pendekatan ini menuntut keseimbangan antara keputusan bisnis yang keras dan komitmen pada nilai. Keseimbangan ini yang membuat kisahnya berbeda dari studi kasus turnaround biasa.

    Bagi pembaca, ini mengajak bertanya: ketika krisis menekan, nilai mana yang tidak boleh dikorbankan demi bertahan? Kejelasan nilai membantu keputusan sulit.
  • 04Ketegangan harian dan psike seorang pemimpin

    Narasinya digerakkan oleh ketegangan hari demi hari saat konflik muncul, dan pembaca diajak masuk ke dalam pikiran Schultz saat ia berdamai dengan keterbatasannya sendiri dan gaya kepemimpinannya yang terus berkembang. Ini bukan kisah kepemimpinan yang linear dan mulus.

    Ulasan pembaca menyebut buku ini menunjukkan pematangan sebuah merek sekaligus pematangan seorang pengusaha. Schultz tidak menyembunyikan keraguan dan ketakutannya sendiri selama proses itu. Kerentanan yang ia tunjukkan menjadi bagian dari pembelajaran kepemimpinan.

    Untuk pembaca, renungkan: kapan terakhir kali kamu mengakui keterbatasanmu sendiri sebagai pemimpin, alih-alih menutupinya? Kejujuran pada diri sendiri adalah langkah awal berkembang.
  • 05Harapan di tengah masa sulit

    Pada akhirnya, Schultz ingin memberi pembaca apa yang ia usahakan berikan setiap hari: rasa harapan bahwa betapapun sulitnya keadaan, masa depan tetap bisa dibangun. Pesan ini muncul berulang sepanjang buku, di tengah rincian bisnis yang berat.

    Harapan di sini bukan optimisme naif, melainkan hasil dari kerja keras menghadapi kenyataan pahit terlebih dulu. Schultz tidak meromantisasi proses turnaround, tetapi menunjukkan bahwa harapan dan kerja keras bisa berjalan bersama. Harapan yang realistis lebih tahan lama.

    Bagi pembaca yang sedang menghadapi masa sulit di pekerjaan atau usaha sendiri, pertanyaan yang berguna: langkah kecil apa hari ini yang membangun menuju pemulihan, bukan hanya menunggu keadaan membaik sendiri? Tindakan kecil menopang harapan.
  • 06Membaca buku ini dengan seimbang

    Buku ini ditulis dari sudut pandang seorang CEO dan pendiri merek, sehingga narasinya condong pada perspektif kepemimpinan puncak. Suara karyawan garis depan, komunitas lokal, atau kritik dari luar perusahaan tidak banyak muncul dalam kisah ini.

    Konteks krisis 2008 juga sangat spesifik: resesi global, industri kopi, dan skala perusahaan multinasional. Pelajaran kepemimpinannya perlu disesuaikan bila diterapkan pada usaha kecil atau konteks yang sangat berbeda. Konteks krisis dan skala perusahaan perlu diperhatikan.

    Untuk memulai menerapkan gagasannya, pilih satu area dalam pekerjaanmu yang terasa "kehilangan jiwanya", dan tuliskan satu langkah untuk mengembalikannya tanpa mengorbankan nilai inti. Nilai inti menjadi kompas dalam masa sulit.

Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.

Link pembelian belum tersedia