← Back

Stumbling on Happiness

Daniel Gilbert

Mindset & PsychologyHappinessCognitive BiasBehavioral Science

Otak manusia ternyata cukup buruk dalam memprediksi apa yang akan membuatnya bahagia di masa depan, sebuah temuan psikologi yang menantang banyak asumsi tentang perencanaan hidup.

  • 01Kita pandai membayangkan masa depan, tetapi buruk memprediksi rasanya

    Sebelum memilih pekerjaan, pasangan, atau tempat liburan, kita membayangkan seperti apa rasanya nanti. Daniel Gilbert, psikolog Harvard, menunjukkan bahwa kemampuan itu, yang ia sebut prospection, canggih tetapi cacat. Imajinasi kita tidak pandai memprediksi apa yang akan membuat kita bahagia.

    Ia bukan sedang menawarkan buku swabantu. Yang ia lakukan adalah menjelaskan secara ilmiah, lewat psikologi, ilmu saraf, filsafat, dan ekonomi perilaku, mengapa kita keliru menilai masa depan sebagaimana kita keliru mengingat masa lalu. Kekeliruan itu sistematis, bukan acak.

    Konsekuensinya, pengalaman pribadi dan kearifan umum pun tidak selalu menolong. Kita cenderung mengulang kesalahan prediksi yang sama, karena imajinasi tidak memberi tahu kita bagian mana yang dikarang. Menyadari batas ini adalah langkah pertama untuk memutuskan dengan lebih rendah hati.
  • 02Kebahagiaan itu subjektif dan sulit diukur

    Sebelum membahas kesalahan prediksi, Gilbert mengakui bahwa kebahagiaan adalah pengalaman subjektif tanpa alat ukur yang benar-benar andal. Alat yang paling tidak cacat, menurutnya, adalah laporan jujur seseorang yang sedang memperhatikan pengalamannya saat itu juga.

    Karena laporan individu bisa keliru, para ilmuwan mengumpulkan banyak data dan mengandalkan hukum bilangan besar. Dengan ukuran berulang, pola yang muncul lebih dapat dipercaya daripada satu ingatan. Data banyak mengoreksi bias satu orang.

    Ini penting bagi pembaca karena mengingatkan agar tidak terlalu yakin pada perasaan sendiri tentang apa yang akan memuaskan. Alih-alih mengandalkan tebakan, kita bisa mencari bukti dari pengalaman banyak orang. Itulah dasar saran yang muncul di akhir buku.
  • 03Realism: imajinasi menambah dan membuang detail tanpa memberi tahu

    Ketika membayangkan sebuah kejadian, otak tidak menyimpan semuanya. Ia mengambil beberapa unsur pokok, lalu menambal sisanya atau membuangnya. Masalahnya, kita tidak sadar bagian mana yang ditambal, dan bagian yang dibuang bisa jadi sangat penting.

    Gilbert menyebut ini realism, karena imajinasi terasa nyata padahal separuhnya rekaan. Contoh: membayangkan jabatan baru, kita membayangkan gaji dan status, tetapi lupa memasukkan tekanan sehari-hari yang menyertainya. Kekurangannya baru terasa saat kenyataan tiba.

    Hal yang sama berlaku untuk ingatan. Kita mengisi celah masa lalu dengan detail yang masuk akal, sehingga kenangan terasa lengkap padahal sebagian dikarang. Karena itu keyakinan yang kuat tentang sebuah gambaran bukan bukti bahwa gambaran itu akurat.
  • 04Presentism: masa kini mewarnai masa depan

    Imajinasi cenderung memproyeksikan keadaan sekarang ke masa depan. Orang yang sedang lapar membayangkan akan menginginkan banyak makanan minggu depan. Orang yang sedang cemas membayangkan masa depan yang cemas. Gilbert menyebut kecenderungan ini presentism.

    Akibatnya, masa depan yang kita bayangkan lebih mirip masa kini daripada kenyataannya. Yang kita rasakan sekarang mudah terbawa ke keputusan tentang esok, sehingga pilihan kita dipengaruhi suasana hati yang mungkin sudah berubah ketika saatnya tiba.

    Kabar baiknya, kita bisa menyadari kecenderungan ini. Sebelum mengambil keputusan penting, tanyakan apakah perasaan saat ini memengaruhi bayangan kita. Bila ya, tunda sebentar atau bandingkan dengan keadaan di suasana hati yang berbeda.
  • 05Rasionalisasi dan sistem imun psikologis

    Kita cenderung membayangkan bahwa kejadian buruk akan terasa sangat buruk dan berlangsung lama. Kenyataannya sering tidak begitu. Gilbert memperkenalkan psychological immune system, mekanisme pikiran yang bekerja diam-diam untuk menafsirkan ulang kejadian agar terasa lebih tertahankan.

    Proses ini disebut rasionalisasi. Setelah sesuatu terjadi, kita menemukan sisi baiknya, menyusun alasan, dan menyesuaikan pandangan. Kita tidak sadar melakukannya, sehingga tidak memperhitungkannya saat memprediksi perasaan kita di masa depan.

    Karena itu kita cenderung melebih-lebihkan kekuatan dan lamanya dampak emosional, atau yang sering disebut impact bias. Kehilangan pekerjaan atau putus hubungan terasa mengubah segalanya, padahal daya adaptasi kita lebih besar dari perkiraan.
  • 06Menggunakan pengalaman orang lain untuk memutuskan

    Jika imajinasi kita tidak bisa diandalkan, apa yang bisa dipakai? Gilbert menyarankan menggunakan pengalaman orang lain yang sudah menjalaninya, atau surrogation. Orang yang sedang mengalami sesuatu bisa melaporkan perasaannya tanpa distorsi imajinasi kita.

    Misalnya, sebelum memutuskan pindah kerja, bicaralah dengan orang yang sudah menjalani pekerjaan itu. Laporan mereka lebih dekat pada kenyataan daripada bayangan kita. Sayangnya, kita sering menolaknya karena merasa situasi kita unik.

    Saran ini terasa tidak memuaskan, karena kita ingin percaya pada intuisi sendiri. Namun bukti menunjukkan bahwa pengalaman banyak orang biasanya lebih tepat. Kerendahan hati terhadap imajinasi sendiri membuat keputusan lebih baik.
  • 07Membaca buku ini dengan seimbang

    Buku ini tidak memberi resep kebahagiaan. Ia lebih menjelaskan cara kerja pikiran kita ketika berusaha meramalkan rasa. Hal itu membuatnya lebih jujur, tetapi juga menuntut pembaca menarik kesimpulan praktis sendiri dari temuan yang ada.

    Gilbert menulis dengan humor dan contoh yang mudah dicerna. Struktur bukunya terbagi menjadi bagian tentang prospection, subjektivitas, realism, presentism, rationalization, dan corrigibility. Sebagian data berasal dari penelitian psikologi, dan tafsirnya tentu bisa diperdebatkan.

    Manfaat paling nyata adalah sikap. Kita menjadi lebih curiga pada bayangan sendiri, lebih terbuka pada pengalaman orang lain, dan lebih santai terhadap ketidakpastian. Dengan begitu, mencari kebahagiaan tidak lagi berupa menebak yang benar, tetapi belajar menjalani hidup sambil terus menyesuaikan.

Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.

Link pembelian belum tersedia