← Back

Designing Your Life

Bill Burnett, Dave Evans

Confidence & ResilienceCareerLife DesignPurpose

Prinsip-prinsip desain produk diterapkan pada perencanaan hidup dan karier, mendorong eksperimen dan prototyping kecil untuk menemukan jalan hidup yang benar-benar sesuai, bukan sekadar mengikuti rencana kaku.

  • 01Merancang hidup seperti seorang desainer

    Banyak orang bertanya apa yang ingin mereka jadi setelah besar, lalu merasa gagal karena tidak punya jawaban tunggal. Bill Burnett dan Dave Evans, dua pengajar di Stanford, menawarkan pendekatan lain: memandang hidup sebagai proyek desain yang bisa dirancang, dicoba, dan diperbaiki terus-menerus.

    Buku ini berasal dari kuliah populer mereka yang dimulai pada 2010 untuk membantu mahasiswa menavigasi hidup setelah lulus. Ide pokoknya, orang membutuhkan proses, atau rancangan, untuk melakukan perubahan besar. Desain berarti mencoba, belajar, lalu menyesuaikan.

    Berbeda dari nasihat mencari satu passion, pendekatan ini menerima bahwa masa depan tidak dapat diketahui. Yang bisa kita lakukan adalah membangun jalan sambil melangkah, dengan eksperimen kecil yang memberi data tentang apa yang cocok bagi kita.
  • 02Membingkai ulang keyakinan yang menghambat

    Sebelum merancang, kita perlu membereskan cara berpikir. Penulis menyebut beberapa keyakinan yang menghambat, misalnya bahwa kita harus menemukan satu jawaban yang benar, atau harus menjadi yang terbaik dalam sesuatu. Keyakinan seperti ini membuat orang lumpuh sebelum mencoba.

    Alat yang mereka pakai adalah reframing, yaitu mengganti keyakinan tersebut dengan sudut pandang yang lebih membantu. Alih-alih bertanya mana jawaban yang benar, kita bertanya beberapa kemungkinan apa yang layak dicoba.

    Reframing membuat masalah terasa bisa ditangani. Yang tadinya buntu berubah menjadi pertanyaan yang bisa dieksplorasi. Karena itu langkah awal bukan mencari jawaban, tetapi memperbaiki pertanyaan.
  • 03Kompas: dashboard hidup, Lifeview, dan Workview

    Untuk mengetahui posisi awal, buku ini meminta kita menilai empat area hidup, yaitu kesehatan, pekerjaan, bermain, dan cinta, masing-masing dengan skala satu sampai sepuluh. Hasilnya, dashboard sederhana, memperlihatkan area yang kuat dan yang perlu perhatian.

    Lalu kita menuliskan Lifeview, pandangan tentang makna hidup, dan Workview, pandangan tentang arti pekerjaan. Keduanya menjadi kompas, bukan peta. Ia tidak menunjukkan jalan pasti, tetapi membantu kita menilai apakah sebuah pilihan searah dengan nilai yang kita pegang.

    Kalau keduanya bertentangan, kita akan merasa tidak selaras. Karena itu penulis mengajak memeriksa kecocokan antara apa yang kita yakini tentang hidup dan tentang kerja, agar arah yang dipilih terasa utuh.
  • 04Good Time Journal: menemukan yang memberi energi

    Sebagai alat utama mengenali diri, penulis meminta kita mencatat aktivitas sehari-hari dan menilai seberapa terlibat serta seberapa berenergi kita saat melakukannya. Catatan ini disebut Good Time Journal, yaitu catatan waktu-waktu ketika kita merasa paling terlibat dan berenergi.

    Dari catatan itu muncul pola. Mungkin kita berenergi ketika bekerja dengan orang, atau justru saat sendirian memecahkan masalah. Pola ini lebih jujur daripada tebakan, karena lahir dari pengalaman nyata sehari-hari.

    Keterlibatan dan energi menjadi petunjuk arah eksperimen berikutnya. Kita tidak perlu menebak apa yang kita cintai. Kita cukup memperhatikan apa yang membuat kita bersemangat, lalu mencari lebih banyak kesempatan seperti itu.
  • 05Gravity problems: menerima yang tidak bisa diubah

    Tidak semua masalah bisa dipecahkan. Penulis membedakan masalah yang bisa dirancang dari gravity problems, yaitu keadaan yang tidak bisa diubah, seperti gravitasi. Menghabiskan tenaga untuk melawannya hanya membuat kita lelah.

    Langkah yang tepat adalah menerima, lalu memindahkan energi ke hal yang bisa dipengaruhi. Misalnya, kita tidak bisa mengubah bahwa sebuah industri sedang menyusut, tetapi bisa memilih cara bergerak di dalamnya atau mencari bidang lain.

    Sikap ini membebaskan. Ketika kita berhenti berdebat dengan hal yang tak bisa diubah, ruang mental untuk merancang bertambah. Penerimaan bukan menyerah, melainkan memilih medan yang layak diperjuangkan.
  • 06Odyssey Plans: tiga versi lima tahun ke depan

    Untuk membayangkan masa depan, penulis meminta tiga rencana lima tahun yang berbeda. Rencana pertama adalah kelanjutan dari jalan sekarang. Rencana kedua membayangkan apa yang akan dilakukan bila jalan pertama tidak lagi tersedia. Rencana ketiga membayangkan apa yang akan dilakukan bila uang dan citra tidak jadi masalah.

    Ujian akhir dalam kuliahnya adalah mempresentasikan tiga rencana ini kepada teman sekelas, dan sebutan yang populer di kalangan mahasiswa adalah odyssey plans. Banyak mahasiswa merasa lebih punya tujuan setelah melakukannya. Membayangkan tiga versi mengurangi tekanan menemukan satu jalan yang benar.

    Manfaatnya, kita menyadari bahwa hidup punya banyak kemungkinan. Beberapa versi mungkin terasa menarik dan sebagian tidak, dan reaksi kita terhadap masing-masing memberi informasi berguna tentang apa yang penting bagi kita.
  • 07Prototyping, memilih dengan baik, dan melepaskan

    Tiga rencana tidak berguna bila tidak diuji. Karena itu penulis mendorong prototyping, yaitu mencoba arah baru dalam skala kecil dan realistis. Bisa berupa mengobrol dengan orang yang sudah menjalani pekerjaan itu, atau mencoba tugas singkat yang mirip.

    Dari prototipe kita belajar apa yang benar-benar cocok. Pengalaman langsung sering menjungkirbalikkan bayangan awal. Dengan begitu kita mengurangi risiko sebelum berkomitmen besar. Kegagalan kecil pun menjadi data, bukan vonis.

    Setelah memilih, langkah penting terakhir adalah melepaskan. Penulis menegaskan bahwa kita perlu berhenti meratapi jalan yang tidak diambil, agar energi terarah pada jalan yang dipilih. Melepaskan pilihan lain memungkinkan kita bertindak sepenuhnya.

Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.

Link pembelian belum tersedia