← Back

The Effective Executive

Peter F. Drucker

Leadership & ManagementManagementProductivity & HabitsDecision Making

Efektivitas seorang eksekutif bukan bawaan lahir melainkan keterampilan yang bisa dipelajari, dibangun lewat kebiasaan mengelola waktu, memilih prioritas, dan mengambil keputusan yang tepat.

  • 01Mengerjakan hal yang benar

    Ukuran seorang eksekutif, kata Peter Drucker, adalah kemampuan menyelesaikan hal yang benar. Itu biasanya berarti mengerjakan apa yang diabaikan orang lain dan menghindari yang tidak produktif. Kecerdasan, imajinasi, dan pengetahuan hanyalah sumber daya. Hanya efektivitas yang mengubahnya menjadi hasil.

    Buku ini terbit pada 1967 dan menyatakan bahwa efektivitas adalah kebiasaan, dan kebiasaan bisa dipelajari lewat latihan yang banyak. Drucker menjadi salah satu pemikir manajemen pertama yang membahas peran eksekutif di era komputer, dengan menekankan bahwa kebiasaan pikiran menentukan hasil.

    Ia mengidentifikasi lima praktik yang harus dan bisa dipelajari. Kelimanya membentuk satu kesatuan: mengelola waktu, memilih kontribusi, memobilisasi kekuatan, menetapkan prioritas, dan mengikatnya dengan keputusan yang efektif.
  • 02Ketahui ke mana waktumu pergi

    Praktik pertama adalah mengetahui ke mana waktu kita pergi. Waktu adalah sumber daya paling terbatas, dan tanpa mengukurnya kita hanya menebak. Drucker menganjurkan mencatat penggunaan waktu secara nyata, selama beberapa minggu, untuk melihat kebiasaan yang membuang waktu.

    Kebanyakan orang terkejut. Rapat yang tidak perlu, interupsi, dan pekerjaan yang sebenarnya bisa didelegasikan memakan porsi besar. Dari catatan itu, kita mengurangi, mendelegasikan, atau menghapus, lalu menyatukan waktu bebas menjadi blok yang cukup panjang untuk pekerjaan penting.

    Langkah ini terlihat sederhana, tetapi menuntut kejujuran. Kita cenderung mengira waktu kita habis untuk hal penting. Data nyata sering menunjukkan sebaliknya, dan itulah titik awal perbaikan.
  • 03Fokus pada kontribusi keluar

    Praktik kedua menggeser pertanyaan dari usaha ke hasil: apa yang bisa kusumbangkan bagi organisasi ini? Eksekutif yang efektif tidak berhenti pada kesibukan atau kewenangan jabatannya, tetapi bertanya hasil apa yang diharapkan darinya.

    Pergeseran ini mengubah cara bekerja. Alih-alih mengerjakan apa yang diminta atau yang tampak mendesak, kita mendefinisikan tujuan peran dan menyelaraskannya dengan tujuan organisasi. Ini juga memperbaiki komunikasi ke atas, ke samping, dan ke bawah.

    Untuk latihan, tanyakan pada dirimu tiap minggu: kontribusi apa yang hanya bisa kuberikan, yang jika kulakukan dengan baik akan membuat perbedaan nyata? Jawabannya menuntun prioritas harian.
  • 04Bangun di atas kekuatan

    Praktik ketiga menyarankan membangun kekuatan, bukan memperbaiki kelemahan. Eksekutif yang efektif menempatkan orang, termasuk dirinya, pada posisi tempat kekuatan mereka bisa memberi hasil terbaik. Mengurus kelemahan hanya perlu sejauh ia menghalangi kekuatan bekerja.

    Prinsip ini juga berlaku saat memilih dan mengembangkan orang. Alih-alih menanyakan apa kelemahan calon, tanyakan apa yang bisa ia lakukan dengan sangat baik. Cara ini meningkatkan produktivitas dan semangat, karena orang bekerja di wilayah tempat ia unggul.

    Tentu saja kelemahan yang fatal tetap perlu diatasi. Namun sebagai arah umum, memperbesar kekuatan menghasilkan lebih banyak daripada menambal kelemahan. Pengenalan diri menjadi kunci.
  • 05Dahulukan yang utama dan pusatkan pada sedikit hal

    Praktik keempat adalah memusatkan perhatian pada beberapa bidang utama tempat kinerja unggul menghasilkan hasil luar biasa. Karena waktu terbatas, eksekutif efektif menetapkan prioritas dan tetap setia pada urutan itu.

    Kuncinya adalah memilih dan menolak. Banyak hal menarik dan mendesak, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menentukan. Eksekutif efektif mengerjakan satu hal pada satu waktu dan menghentikan pekerjaan yang tidak lagi relevan. Keberanian menolak sama pentingnya dengan keberanian bertindak.

    Dalam praktik, tentukan dua atau tiga hasil terpenting untuk kuartal ini, lalu lindungi waktu untuk itu dari gangguan. Semua yang lain menyesuaikan.
  • 06Keputusan yang efektif

    Praktik kelima mengikat semuanya: mengambil keputusan yang efektif. Drucker menganggap pengambilan keputusan sebagai inti peran eksekutif. Keputusan yang baik bukan sekadar cepat, tetapi tepat sasaran dan didasarkan pada pemahaman tentang masalah yang sebenarnya.

    Ia menekankan bahwa keputusan berbeda dari pilihan cepat di antara opsi. Ia menuntut kejelasan tentang apa yang harus dipenuhi, pertimbangan berbagai pandangan, dan tindakan yang memastikan keputusan dijalankan. Tanpa itu, keputusan tetap di atas kertas.

    Bagi pembaca, langkah sederhananya: sebelum memutuskan, tuliskan masalah utamanya dan siapa yang harus menjalankan keputusan. Setelah itu, pastikan tindak lanjut ditetapkan. Keputusan tanpa pelaksanaan bukanlah keputusan.
  • 07Membaca buku klasik ini dengan konteks

    Buku ini ditulis pada 1967 dan contohnya diambil dari era pemerintahan Kennedy dan Johnson, sehingga terasa seperti kapsul waktu. Namun praktik yang dibahasnya, menurut para pembaca, tetap teruji zaman, walau dunia kerja sudah banyak berubah.

    Dunia sekarang lebih terfragmentasi: kerja jarak jauh, notifikasi, dan proyek lintas tim. Karena itu prinsip seperti mengelola waktu dan fokus pada kontribusi perlu disesuaikan dengan alat dan budaya kerja terbaru. Misalnya, catatan waktu bisa memakai aplikasi, tetapi kejujurannya tetap sama.

    Untuk memulai, catat penggunaan waktumu selama satu minggu, lalu pilih satu kegiatan yang bisa dihentikan atau didelegasikan. Perubahan kecil ini sudah mengikuti semangat Drucker. Ringkasan ini bukan nasihat manajemen individual.

Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.

Link pembelian belum tersedia