← Back

The Righteous Mind

Jonathan Haidt

Mindset & PsychologyMoralityPoliticsSocial Psychology

Perbedaan moral dan politik antar manusia dijelaskan lewat riset psikologi yang mengungkap bahwa penilaian moral sering kali muncul dari intuisi terlebih dahulu, baru kemudian dibenarkan lewat logika.

  • 01Mengapa orang baik terpecah oleh politik dan agama

    Jonathan Haidt, psikolog sosial di New York University, menulis buku ini untuk menjawab pertanyaan yang mengganggu banyak orang: mengapa orang yang sama-sama baik bisa begitu terbelah oleh politik dan agama, dan masing-masing yakin dirinya benar? Bukunya terbit pada 2012 dan menjadi bacaan berpengaruh.

    Titik tolaknya moralitas. Menurut Haidt, kita bukan hanya makhluk moral, tetapi juga moralistik: mudah menghakimi. Kita juga cenderung hidup berkelompok, sehingga muncul batas dan konflik antarkelompok. Penerbit menyebut bukunya menyelidiki asal-usul moralitas yang menjadi dasar agama dan politik.

    Tujuannya bukan menentukan siapa yang benar. Dengan memahami mengapa kita berbeda, kita dapat menghindari saling menyalahkan dan mengelola konflik agar tidak menghancurkan kita. Pendekatannya empiris, berdasarkan pengamatan, bukan penalaran semata.
  • 02Intuisi lebih dulu, penalaran belakangan

    Prinsip pertama Haidt: intuisi datang lebih dulu, penalaran strategis menyusul. Ketika menilai sesuatu benar atau salah, kita biasanya merasakan dulu, baru mencari alasan untuk membenarkan perasaan itu. Kita mengira opini kita lahir dari nalar, padahal sering dari dorongan yang tidak disadari.

    Ia terpengaruh filsuf David Hume yang menyebut nalar sebagai pelayan hasrat. Bagi Haidt, penalaran bukan alat mencari kebenaran objektif, melainkan alat mengejar tujuan sosial: berdebat, membujuk, dan mengajak orang bergabung ke tim kita. Nalar melayani kelompok.

    Eksperimen tentang tabu moral yang tidak merugikan siapa pun mendukung argumen ini. Orang menilai perbuatan itu salah dengan keras, lalu berusaha keras menyusun alasan, dan bila alasan runtuh, mereka tetap merasa salah. Perasaan sudah memutuskan lebih dulu.
  • 03Gajah dan penunggangnya

    Haidt memakai metafora penunggang di atas gajah. Gajah adalah proses otomatis dan intuitif, sedangkan penunggang adalah penalaran sadar. Meski tampak mengendalikan, penunggang sebenarnya lebih sering membenarkan arah yang sudah dipilih gajah, seperti juru bicara yang membela keputusan atasannya.

    Namun ia mengakui penunggang kadang bisa mengarahkan gajah. Penilaian bisa berubah oleh pengaruh sosial dan bujukan. Bila kita bertanggung jawab kepada orang lain, kita berpikir lebih sistematis. Dan kita bisa membuka diri pada argumen orang lain dan menyimpulkan berbeda.

    Konsekuensi praktisnya: berargumen keras kepada seseorang jarang mengubah pikirannya. Yang lebih berhasil adalah menarik intuisinya, misalnya lewat empati dan hubungan baik. Kita perlu berbicara kepada gajah, bukan hanya penunggang.
  • 04Moralitas lebih dari sekadar harm dan fairness

    Bagian kedua buku menyatakan bahwa ada lebih banyak pada moralitas daripada kepedulian pada bahaya dan keadilan. Haidt menggunakan metafora lidah dengan reseptor rasa: pikiran yang benar dan saleh punya beberapa reseptor rasa moral, bukan hanya dua.

    Ia menyebut enam fondasi moral, yaitu kepedulian, keadilan, kesetiaan, otoritas, kesucian, dan kebebasan. Berbagai budaya dan kelompok politik memberi bobot berbeda pada fondasi-fondasi itu. Karena itu yang satu menilai sesuatu sebagai keadilan, yang lain menilainya sebagai pengkhianatan.

    Bagi pembaca, ini membantu memahami lawan bicara. Orang yang tidak setuju denganmu mungkin tidak lebih jahat, tetapi menimbang nilai yang berbeda. Memahami hal itu tidak menuntut menyetujui, hanya mengenali dasar penilaian.
  • 05Moralitas WEIRD dan asal usulnya

    Salah satu bab berjudul melampaui moralitas WEIRD. Haidt mengingatkan bahwa penelitian psikologi sering memakai peserta yang Western, Educated, Industrialized, Rich, dan Democratic, yaitu dari masyarakat Barat, terdidik, industri, kaya, dan demokratis. Mereka tidak mewakili seluruh manusia.

    Di banyak masyarakat lain, moralitas mencakup kesetiaan pada kelompok, hormat pada otoritas, dan kesucian. Fondasi-fondasi itu sering kurang diperhatikan dalam penelitian yang berpusat pada individu. Dengan memperluas sampel, Haidt ingin menyeimbangkan gambaran.

    Pelajarannya: berhati-hatilah menganggap cara berpikir kita sebagai universal. Apa yang tampak alami bagi satu budaya mungkin aneh bagi budaya lain. Kerendahan hati ini mengurangi kecenderungan menganggap orang lain irasional.
  • 06Sembilan puluh persen simpanse, sepuluh persen lebah

    Bagian ketiga membahas mengapa moralitas mengikat dan membutakan. Haidt berargumen bahwa seleksi tidak hanya bekerja pada individu, tetapi juga pada kelompok. Kelompok yang belajar bekerja sama demi kebaikan bersama mengungguli yang lain. Ia menyebutnya seleksi kelompok.

    Dari situ ia menawarkan metafora bahwa manusia adalah sembilan puluh persen simpanse dan sepuluh persen lebah. Sebagian besar dari kita egois, tetapi dalam kondisi tertentu kita mampu menyatu dengan kelompok dan merasakan kegembiraan kebersamaan.

    Kekuatan itu ambigu. Kerja sama adalah kekuatan paling dahsyat di planet ini, dan ia bisa dipakai untuk membangun maupun menghancurkan. Moralitas mengikat kita menjadi kelompok sekaligus membutakan kita pada pandangan moral kelompok lain.
  • 07Memahami perbedaan, dan cara membaca buku ini

    Bila intuisi memimpin dan moralitas berbeda antarkelompok, maka dialog lintas kubu membutuhkan pendekatan lain. Implikasinya, empati lebih mungkin mengubah pikiran daripada argumen. Pemahaman timbal balik dimulai dari mengakui bahwa pihak lain punya alasan moral juga.

    Perlu diingat bahwa buku ini kontroversial. Haidt berargumen bahwa kaum konservatif memanfaatkan lebih banyak fondasi moral dibanding kaum liberal, sehingga lebih memahami psikologi moral. Klaim ini diperdebatkan, dan sebagian ahli mempertanyakan teori fondasi moral itu sendiri.

    Sebaiknya bacalah dengan kepala dingin dan bandingkan dengan sudut pandang lain. Untuk praktik, coba dengarkan satu pandangan yang biasanya kamu tolak, dan tanyakan nilai apa yang mendasarinya. Latihan itu melatih kerendahan hati.

Ringkasan ini adalah pengantar, bukan pengganti. Baca buku lengkapnya untuk argumen dan studi kasus yang utuh.

Link pembelian belum tersedia